Isosolo Budaya Legenda Danau Sentani

Tari Isolo Melambangkan Kerukunan antar suku di Papua. Seni tarian di atas perahu ini adalah tradisi masyarakat Papua khususnya Suku Sentani di Danau Sentani dimana tarian dilakukan dari satu kempung ke kampung lainnya. Menurut bahasa setempat Tarian Isosolo atau Isolo merupakan seni tradisi orang Sentani yang menari di atas perahu di Danau Sentani. Isosolo terdiri dari dua kata yaitu Iso dan Solo atau Holo. Iso artinya bersukacita dan menari mengungkapkan perasaan hati, sedangkan Holo atau solo berarti kelompok atau kawanan dari semua kelompok umur baik anak-anak, ibu-ibu atau orang dewasa laki-laki yang menari. Isosolo berarti kelompok orang yang menari dengan sukacita mengungkapkan perasaan hati.

Tarian ini biasanya diikuti oleh kaum laki-laki dan kaum perempuan dengan jumlah 30 hingga 50 orang. Untuk menampung peserta dalam tarian ini maka mereka akan menggunakan beberapa perahu besar khas orang Sentani (Khai). Beberapa perahu akan dirapatkan kemudian diatasnya akan diletakkan papan atau kayu nibung yang ukurannya disesuaikan dengan badan perahu dan kapasitas peserta tarian. Setelah itu perahu akan di hiasi dengan daun kelapa ataupun daun (khamea) yang biasa digunakan dalam tarian adat yang lebih dikenal dengan istilah “furing”. Penari isosolo dilengkapi dengan pakai adat masing-masing seperti Yonggoli (rok/rumbai-rumbai),, Manik-manik (Mori-mori), Noken (Holbhoi) dan Tifa (wakhu), Cawat (malo/ambela) dan beberapa properti ‘perang’ seperti busur panah.

Tarian Isosolo di Sentani biasa dilakukan oleh ondofolo (kepala adat) beserta masyarakat kampung untuk mempersembahkan suatu hadiah kepada ondofolo lainnya. Barang yang dipersembahkan adalah barang yang dianggap berharga seperti babi hutan besar, hasil kebun, mengantarkan anak gadis ondofolo untuk dinikahkan, dan beberapa seserahan adat lainnya. Menurut salah satau masyarakat dari pelaku tari ini dahulu tarian ini adalah tarian yang mengisahkan kerukunan antar kampung. “Jadi misalnya kampung A meminta hasil bumi kepada kampung B, lalu Kampung B mulai menanam kurang lebih selama 6 bulan. Ketika hasil buminya sudah panen, maka kampung B akan membawanya dengan perahu ke kampung A. Tari inilah yang dibawakan saat perjalanan ke kampung. Selain itu dahulu, Isosolo adalah tarian yang menyangkut derajat, wibawa dari seseorang. Ketika mereka membawa tiang pancang untuk membangun rumah, menang perang, atau wujud penghormatan terhadap ondoafi lainnya. Melibatkan seluruh warga kampung untuk membuat dan menyiapkan makanan bagi tamu dari kampung lain sehingga berbiaya sangat besar.

Namun saat ini, selain bentuk penghormatan terhadap ondoafi, Isosolo lebih dianggap sebagi pertunjukan seni kebanggan warga Sentani yang jadi salah satu atraksi populer di Festival Danau Sentani. Kini Seni tradisi Isosolo dikemas dalam seni pertunjukan pada setiap iven Festival Danau Sentani. “Tarian Isosolo ini berlaku sama untuk seluruh keondoafian di Sentani, dan tujuannya juga sama, yaitu suatu tarian penghormatan kepada kewibawaan ondofolo.

Saat Isolo dilakukan ketika mendapat hasil buruan atau panen besar. Hasil bumi tersebut akan diletakkan di rumah adat di kampung dan disimpan kemudian nantinya akan dibagikan. Ada yang untuk diberikan ke janda, ada juga untuk diberikan ke tamu yang datang. Namun menurut pimpinan tari kampung Puay ini, Mefri, tarian Isolo ada dua jenis. Masing-masing kampung memiliki Isolo yang berbeda-beda, baik dari sisi tarian maupun lagu-lagu yang mereka kumandangkan. Isolo itu ada dua, satu waktu kita berburu, kedua untuk perang. Isolo jenis pertama dilakukan usai warga desa berhasil mendapatkan hasil tangkapan.

Biasanya ondoafi atau ondofolo, sebutan untuk Kepala Adat di Sentani, meminta warga pergi ke hutan untuk berburu “Kita panah atau tombak babi, sudah itu kita taruh, kita angkat lalu menari Isolo itu. Supaya dari tempat kita berburu bisa didengar masyarakat di kampung bahwa bapak dorang sudah berhasil dapat babi,” jelasnya. Usai menari dan bernyanyi, kelompok warga turun dari hutan menuju perahu untuk kembali. Saat di pinggiran danau, mereka kembali menari dan bernyanyi hingga di atas perahu. Selama perjalanan pun Isolo tetap dilakukan. “Lagunya beda-beda. Kalau babi ada taring lagu lain, babi tidak ada taring lagunya beda lagi. Tiap kampung tidak sama,” ucap Mefri. Lagu perang ada dua, dinyanyikan bergantian. Kalau hanya satu lagu itu perang palsu, tidak perang. Saya perang, merebut tempat sekarang. Harus kuasai tempat kami, perang dengan alam, dan perang dengan manusia. Kalau tidak seperti itu tidak bisa kuasai tempat

Isosolo mempunyai peran sosial yang sangat besar terhadap kerukunan antar masyarakat. Tarian ini menanamkan rasa saling menghargai, menghormati, membutuhkan satu sama lain, dan juga menjaga hubungan baik dilingkungan masyarakat sekitar danau sentani. Hal ini tentu mencerminkan sifat manusia sebagai makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Sudah menjadi keniscayaan bahwa manusia dalam kehidupannya melakukan interaksi untuk mendapatkan maupun menghasilkan sesuatu. Masyarakat sekitar danau sentani menyadari hal tersebut sehingga sampai saat ini tarian Isosolo masih dipertahankan oleh masyarakat sekitar danau sentani.

Sumber : https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id