Pemangkur Sagu sedang melakukan Tokok Sagu

Jelajah Seru Ke Hutan Sagu di Sentani

Bagi kamu yang memiliki jiwa petualang, sekaligus tertarik melihat kehidupan masyarakat lokal Papua yang sebenar-benarnya, tak ada salahnya menjadikan jelajah hutan sagu untuk melihat bagaimana masyarakat melakukan ‘Tokok Sagu’ sebagai agenda saat berkunjung ke Kabupaten Jayapura.

Sagu, merupakan pangan lokal asli Indonesia yang memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat wilayah Timur Indonesia, juga Papua serta Papua Barat karena menjadi bahan pangan utama yang mereka konsumsi.

Ada banyak hutan sagu yang tersebar di berbagai distrik di Kabupaten Jayapura ini. Salah satu destinasi yang cocok untuk jelajah hutan sagu, adalah Kampung Yomoro-Aryauw yang sempat kami kunjungi saat perhelatan Festival Danau Sentani. Lokasinya sebenarnya tak jauh dari Pantai Khalkote. Namun, pemandu kami—Pak Nikki— memilih jalur lewat Danau Sentani sehingga harus menggunakan perahu.

Baca juga: Berkenalan dengan si cantik Danau Sentani

 

Kisah Sagu dari tanah Papua

Sebelum melanjutkan cerita perjalanan seru kami menjelajah hutan Sagu ada baiknya kita ketahui terlebih dahulu kisah mengenai Sagu, makanan pokok masyarakat di Papua ini.

Tapi tahukah kamu bahwa Sagu tak hanya menjadi bahan pangan penting saja, namun menjadi cerminan adaptasi manusia Papua dengan lingkungan sekitar. Bahwa segala aspek kehidupan masyarakat Papua, memang berasal dan senantiasa selaras dengan alam. Bagi masyarakat Papua, Sagu merupakan ‘saudara’ mereka, seperti halnya Danau Sentani adalah ‘Mama’, yang senantiasa memberi mereka energi kehidupan.

Dalam buku “Papeda, Kuliner Masyarakat Papua” yang ditulis oleh Enos Rumansara serta Enrico Kondologit, masyarakat Sentani meyakini kepercayaan bahwa nenek moyang mereka dulunya yang pertama datang ke bumi tidaklah sendirian. Mereka diikuti oleh saudara-saudara, yang salah satunya berubah menjadi sagu.

Itu makanya Sagu menjadi aspek penting kehidupan masyarakat Papua. Sejak orang Papua lahir, menikah, hingga meninggalkan dunia fana. Bahkan dahulu, pengolahan sagu mulai dari penebangan, kerap diikuti ritual-ritual tertentu.

Tak hanya Sagu, ulat sagu yang terdapat di dalam pohon Sagu juga mereka konsumsi juga dipercaya memiliki kekuatan leluhur seperti yang diyakini masyarakat Suku Asmat. Sementara pelepah Sagu memberi manfaat untuk melengkapi kebutuhan dapur seperti keranjang hingga wadah sagu dan pinang.

***

Menyusuri hutan Sagu

Dipikir-pikir, Kampung Yomoro-Aryauw yang menjadi lokasi kami menjelajah Hutan Sagu tidak hutan liar bahkan letaknya persis di samping Bandara Sentani. Terdapat pula jalan menuju kampung ini. Hal ini kami ketahui setelah petualangan becek-becekan di hutan Sagu tersebut berakhir. Namanya menjelajah hutan, dimana dong letak keseruannya jika tidak masuk ke dalamnya.

Kami sudah menjumpai pohon-pohon sagu yang tumbuh rimbun sejak awal perjalanan. Ada yang sudah selesai di pangkur, ada pula yang masih tergeletak ‘menunggu’ giliran. Semakin masuk ke dalam hutan, hampir sepanjang perjalanan tergenang air alias becek. Jika tidak hati-hati berpijak, kaki bakal terendam ke dalam kubangan air berlumpur atau digigit pacet.

Travel Blogger Indonesia di Hutan Sagu
Travel Blogger Indonesia di Hutan Sagu. (Photo by: Ceritaeka.com)

Di dalam hutan kami menemui seorang masyarakat lokal yang sedang memangkur pohon Sagu dan seorang Mama yang sedang memeras sagu. Seolah tak menghiraukan kedatangan rombongan kami, mereka terus senantiasa bekerja. Kami pun tak ingin mengganggu aktivitasnya, hanya ingin melihat secara langsung aktivitas pangkur sagu tersebut.

Memangkur di Hutan Sagu
Pemangkur Sagu

Sebelum menebang pohon dan memangkur sagu, mula-mula pohon sagu yang sudah cukup umur dengan pelepah pinang. Baru kemudian dikuliti dan ditokok menggunakan alat semacam pangkur.

Selanjutnya bulir sagu yang sudah ditokok, dibawa ke tempat peremas sagu untuk disiram dengan air bersih. Kemudian sagu diremas hingga terpisah antara air dengan bulir halus sagu menggunakan alat penapis bernama ‘Khanggali’. Bulir halus yang mengendap inilah, yang kemudian menjadi tepung sagu.

Tepung sagu-lah yang lazim dikonsumsi dan diolah menjadi makanan Papeda. Jika beruntung, dalam batang pohon bisa berisi ulat sagu, yang bisa dikonsumsi dengan cara dibakar. Ulat sagu ini dikenal lezat dan memiliki kadar protein yang baik.

Aktivitas Tokok Sagu ini, menjadi wujud kerjasama antara kaum lelaki dan perempuan Papua. Tokok Sagu dilakukan kaum pria, sedangkan aktivitas meremas sagu dilakukan para Mace—sebutan masyarakat lokal untuk mama atau kaum ibu.

 

Fakta tentang Sagu

  • Sagu tak hanya berada di kawasan Indonesia Timur, seperti Maluku atau Papua, tetapi juga wilayah lain di Asia Tenggara. Namun memang, sagu liar di negeri kita menempati lahan sekitar 1,250 juta hektar, dan 1,2 juta diantaranya tumbuh subur di Papua.
  • Di sekitar Sentani pada khususnya, serta Kabupaten Jayapura pada umumnya, dikenal sekitar 11 jenis sagu. Bahkan sagu tak hanya berwarna putih, namun juga merah muda hingga kebiruan.
  • Satu pohon sagu bisa menghasilkan 12-15 karung volume 20 kilogram. Harga per karung umum dijual seharga 250 ribu hingga 300 ribu rupiah
  • Sagu umumnya diolah menjadi makanan Papeda, yang menjadi makanan pokok layaknya nasi bagi masyarakat disini. Atau menjadi makanan penutup ‘Bhra’ yang merupakan getuk ala Papua, hingga lempengan sagu bakar.

Related Posts