Tembikar hasil warga Kampung Abar Sentani

Mengenal Tembikar dari Kampung Abar, Sentani

Menjelajah Danau Sentani yang memiliki luas sekitar 9.300 membentang dari Kabupaten Jayapura hingga sebagian kecil wilayah Kota Jayapura ini memang tidak ada habisnya. Ada banyak kampung-kampung di sekitar Danau Sentani yang bisa kamu kunjungi saat berlibur di Kabupaten Jayapura. Nah, salah satu yang gak boleh dilewatkan adalah mampir ke Kampung Adat Abar.

Ada apakah di Kampung Adat Abar ini? Seperti halnya Kampung Asei yang menghasilkan lukisan kulit kayu Khas Papua, di Kampung Adat Abar ini kita bisa melihat pembuat tembikar tanah liat. Inilah satu-satunya desa yang membuat tembikar tanah liat di Papua.

Tembikar Khas Sentani Papua
Tembikar Khas Sentani Papua

Seolah didukung oleh alam sekitar, entah mengapa, tanah liat yang menjadi bahan baku utama tembikar ini sangat mudah ditemukan di berbagai penjuru kampung. Mulai dari pinggiran kampung hingga hutang di belakang desa. Tembikar atau gerabah tanah liat disini lazim disebut ‘Sempe’ untuk gerabah kecil dan ‘Hele’ untuk gerabah berukuran besar.

Untuk mencapai Kampung Abar ini, kamu bisa menyeberang menggunakan perahu dari Jembatan Kuning—lokasi dimana patung Yesus di tengah danau berada—atau bisa juga dari dermaga Pantai Khalkote. Tentunya sambil menikmati pemandangan menakjubkan Danau Sentani.

Perjalanan menuju Kampung Abar Sentani
Perjalanan menuju Kampung Abar Sentani
Terlihat Patung Yesus saat perjalanan
Terlihat Patung Yesus saat perjalanan menuju Kampung Abar

Tua-muda, lelaki atau perempuan, semua mahir membuat tembikar yang ditawarkan dengan harga berkisar Rp 100.000 hingga Rp 500.000 sesuai besar ukurannya. Pembuatan tembikar ini pun telah menjadi nafas keseharian penduduk Desa Abar, karena hampir setiap rumah terdapat alat meja putar pembuat tembikar. Walau mata pencaharian utama penduduk adalah nelayan dan berkebun, menjadi pengrajin tembikar menjadi sumber nafkah tambahan bagi mereka.

Warga Kampung Abar Sentani
Warga Kampung Abar Sentani

Keterampilan membuat gerabah telah ada sejak jaman Neolitik. Pertama kali diperkenalkan oleh pendatang Austronesia yang datang ke wilayah Papua pada saat itu. Awalnya, tembikar tersebut diperuntukkan bagi keperluan dapur berbentuk wadah yang berfungsi untuk memasak keladi, umbi-umbian, papeda, ikan dan sayur. Tak jarang pula difungsikan sebagai penampung air dan sagu.

Sekedar saran, jika datang ke desa ini sebaiknya menjelang sore. Pasalnya, senja di dermaga Desa Abar, sungguh menakjubkan dan tak boleh kamu lewatkan.

Related Posts